RSS

Category Archives: Kefahaman & Pemikiran Islam

Bergurau Biar Bertempat

Akhbar semalam melaporkan tentang kematian seorang bayi berusia 5 bulan mati dilanggar kenderaan. Perlanggaran yang berlaku secara tidak sengaja itu adalah akibat gurauan seorang penghantar gas yang mengejutkan nenek tiri bayi berkenaan dengan mengatakan kononnya terdapat seekor ular di dalam kereta.

Nenek tersebut yang terkejut dan ingin menekan pedal brek secara tak sengaja telah tertekan pedal minyak yang menyebabkan kenderaan dipandu melanggar cucunya.

Inilah natijah apabila bergurau tak kena pada tempatnya. Seringkali kita dapati sesetengah anggota masyarakat yang suka bergurau dengan melakukan kejutan serta berunsur penipuan. Gurauan seperti ini amat ditegah oleh Islam. Agama Islam tidak melarang umatnya untuk bergurau, namun harus diingat bahawa tiap sesuatu itu ada hadnya.

Malah SJ secara peribadi berpendapat kata-kata gurauan sesetengah pihak yang berkata “Kalau tak boleh gurau, pergi duduk surau” adalah bersifat penghinaan kepada agama Islam seolahnya Islam suatu agama yang rigid serta tak meraikan fitrah manusia yang memerlukan tawa senda gurau. Pun begitu senda gurauan juga ada adab dan batasan.

Pada suatu hari Nabi dan para sahabat berada dalam satu perjalanan. Tiba-tiba salah seorang daripada mereka tertidur. Seorang sahabat yang lain telah mengambil anak panah milik orang yang tertidur dengan tujuan bergurau. Apabila terjaga dari tidurnya, sahabat itu terkejut dan mencari-cari barang miliknya. Semua sahabat yang melihat menjadi tertawa-tawa.

Rasulullah bertanya kepada mereka “Mengapa kalian tertawa?”

Apabila diceritakan apa yang baru sahaja berlaku, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal bagi bagi seorang Muslim menakutkan Muslim yang lain.”€ (riwayat Abu Dawud)

Antara bentuk yang termasuk dalam kategori gurauan melampau ialah apabila mempersendakan salah satu agama yang menjadi ikutan masyarakat, sama ada Islam ataupun selainnya. Demikian juga gurauan yang mempersendakan keluarga, keturunan, bangsa dan warna kulit seseorang. Gurauan seperti ini sangat buruk dan mampu menyebabkan kebencian dan menyemai bibit-bibit perpecahan di kalangan anggota masyarakat.

Selain itu, guruan dusta juga termasuk dalam kategori gurauan melampau. Sebagai seorang Muslim yang wajib menjaga tutur kata, pendustaan tidak patut dilakukan walaupun dalam gurauan. Sebab sekali kita berdusta, maka berkuranglah kepercayaan orang lain kepada kita.

Pasti kita ingat kisah serigala dan penggembala biri-biri yang sarat pengajaran.

Di dalam suatu hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda yang bermaksud “Celakalah bagi seseorang yang berdusta untuk membuat manusia tertawa. Celaka baginya, celaka baginya.” (Abu Dawud)

Juga termasuk gurauan yang melampau ialah apabila kita bergurau tanpa memperhatikan konteks dan keadaan orang yang kita guraukan. Seseorang yang sedang dalam situasi kesakitan atau kemalangan tidak harus kita jadikan ia satu gurauan. Orang yang sedang susah hati, juga tidak patut dijadikan itu sebagai gurauan. Sebab pada saat itu mereka memerlukan bantuan dan nasihat, bukan gurauan.

Pendek kata, kita mesti tahu menempatkan diri dan ucapan. Pada masa yang memerlukan kita untuk serius, kita mesti serius. Dan pada situasi santai, senda gurau dibolehkan. Maka perhatikanlah lidah kita. Berfikir sebelum berkata. Dahulu akal sebelum lidah.

Wallahu’alam.

 

Prinsip Hubungan Akal dan Wahyu Menurut Ibn Rushd

rushd

Dalam membahas masalah akal dan wahyu Ibn Rushd menggunakan prinsip hubungan (ittisal) yang dalam argumentasi -argumentasinya mencoba mencari hubungan antara agama dan falsafah. Argumentasi-argumentasinya adalah dengan: Pertama, menentukan kedudukan hukum daripada belajar falsafah. Menurutnya belajar falsafah adalah belajar ilmu tentang Tuhan, yaitu  kegiatan filsosofis yang mengkaji dan memikirkan segala sesuatu yang wujud (al-mawjudat) yang merupakan pertanda adanya Pencipta (Sani‘), karena  al-mawjudat  adalah produk dari ciptaan. Lebih sempurna ilmu kita tentang hasil ciptaan Tuhan (al-mawjudat ) lebih sempurna pula ilmu kita tentang Tuhan. Karena  wahyu (shar‘) menggalakkan aktiviti bertafakkur tentang al-mawjudat ini, maka belajar falsafah diwajibkan dan diperintahkan oleh wahyu.[1]

Kedua membuat justifikasi bahwa kebenaran yang diperolehi daripada demonstrasi (al-burhan) sesuai dengan kebenaran yang diperolehi daripada wahyu. Disini ia berargumentasi bahwa di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal (nazar) untuk memahami segala yang wujud.[2] Karena  nazar ini tidak lain daripada proses berfikir yang menggunakan metode logika analogi  (qiyas al-‘aqli), maka metode yang terbaik adalah metode demonstrasi (qiyas al-burhani). Sama seperti qiyas dalam ilmu Fiqh (qiyas al-fiqhi), yang digunakan untuk menyimpulkan ketentuan hukum, metode demonstrasi (qiyas al-burhan) digunakan untuk mamahami segala yang wujud (al-mawjudat),[3] Hasil dari proses berfikir demonstratif ini adalah kebenaran dan tidak dapat bertentangan dengan kebenaran wahyu, karena  kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran.[4]  Kedua thesis di atas merupakan asas bagi kesimpulan Ibn Rushd selanjutnya yang menyatakan bahwa para filosof memiliki otoritas untuk menta’wilkan al-Qur’an.

Bagaimanapun thesis diatas masih menyimpan satu pertanyaan:  adakah kebenaran yang diperoleh akal tidak akan bertentangan dengan kebenaran wahyu? Jawapan pertanyaan ini tidak dinyatakan secara jelas, akan tetapi dapat difahami dari teori Ibn Rushd kemampuan akal dalam memahami wahyu, dan tentang wahyu yang diklasifikasikan ke dalam makna.

Berasaskan pada kemampuan akal manusia, Ibn Rushd membahagi masyarakat kedalam tiga kelompok: Pertama kelompok yang tidak dapat menafsirkan al-Qur’an, Kedua, kelompok yang memiliki kemampuan menafsirkan secara dialektik dan ketiga kelompok yang mampu menafsirkan secara demonstratif yang disebut ahl al-burhan .[5]  Akal dalam klassifikasi ini difahami sebagai kemampuan untuk berfikir dan memahami. Sedangkan  wahyu dibahagi kedalam tiga bentuk makna yang terkandung didalamnya yaitu : 1) Teks yang maknanya dapat difahami dengan tiga metode yang berbeda  (metode retorik, dialektik dan demonstratif); 2) Teks yang maknanya hanya dapat diketahui dengan metode demonstrasi.[6] Makna yang terkandung dalam teks ini terdiri dari: a) makna zahir, yaitu  teks yang mengandung simbol-simbol (amthal ) yang dibuat untuk menerangkan idea-idea yang dimaksud.(الامثال المضروبة لتلك المعانى) b) makna batin yaitu  teks yang mengandung idea-idea itu sendiri dan hanya dapat difahami oleh yang disebut ahl al-burhan. (تلك المعاني التي لا تنجلي إلا لأهل البرهان); 3) teks yang bersifat ambiguos antara zahir dan batin.[7] Klassifikasi teks wahyu ini juga merujuk kepada kemungkinan untuk dapat difahami dengan akal.

Nampaknya, yang dimaksud Ibn Rushd sebagai hubungan (ittisal) adalah hubungan antara ayat-ayat yang mengandung makna batin dan kemampuan akal untuk memahami dengan metode demonstratif. Maka itu menurutnya perkataan الراسخون في العلم  dalam al-Qur’an (3:7) adalah mereka yang memiliki pengetahuan berdasarkan metode demonstrasi, yaitu  para filosof.[8]

Dari klassifikasi diatas agaknya jawapan yang diberikan Ibn Rushd jelas bahwa pertentangan  antara akal dan wahyu tidak terjadi apabila akal difahami sebagai al-burhan. Namun demikian, Ibn Rushd tetap mengakui adanya kemungkinan pertentangan  antara ahl al-burhan  dan teks wahyu. Dan untuk itu solusi yang terbaik menurutnya adalah seperti cara pengambilan hukum Fiqh. Dalam kasus  tertentu pengetahuan tentang al-mawjud  “tidak  disebutkan”  dalam wahyu dan dalam kasus  yang lain “disebutkan”. Jika tidak disebutkan maka ia harus disimpulkan daripadanya, seperti qiyas dalam Fiqh. Jika pengetahuan itu disebutkan dan makna zahirnya betentangan dengan hasil pemikiran demonstratif maka diselesaikan dengan dua cara:[9] Pertama dengan interpretasi secara majazi (alegorik) atau kiasan makna zahir itu sesuai dengan aturan-aturan bahasa Arab yang berlaku, yaitu  “menterjemahkan arti sesuatu ekspresi dari yang bersifat metaforikal kepada pengertian yang sesungguhnya  .”[10] Kedua dengan mencari semua makna zahir dalam al-Qur’an yang bersesuaian dengan interpretasi alegorik atau yang mendekati makna alegorik itu.[11]

Akan tetapi untuk menta’wilkan secara majazi makna ayat zahir pada alternatif pertama Ibn Rushd tidak  hanya bersandar pada aturan-aturan Bahasa Arab sahaja, ia juga menetapkan aturan berasaskan pada kejelasan simbol dan benda yang disimbolkan untuk menentukan apakah  sesuatu ayat zahir boleh dita’wilkan atau tidak. Jika makna zahir sesuatu ayat adalah seperti arti yang dimaksudkan (al-ma’na al-mawjud fi nafsihi), ayat itu tidak perlu dita’wilkan. Jika zahir ayat-ayat itu adalah simbol-simbol belaka dan bukan arti yang sesungguhnya daripada zahirnya ayat-ayat itu harus dita’wilkan sesuai dengan kesesuaian antara simbol (al-mithal ) dengan benda yang disimbolkan (al-mumaththal ).[12] Jika simbol dan benda yang disimbulkan  dapat mudah diketahui maka setiap orang boleh menta’wilkannya. Tapi jika simbol dan benda yang disimbolkan sukar diketahui atau jika simbol-simbol itu mudah diketahui tapi benda yang disimbolkan sukar untuk diketahui atau jika benda yang disimbulkan  dapat difahami dengan mudah tapi simbol-simbol ayat itu tidak dapat begitu saja diketahui, maka ayat-ayat ini hanya boleh dita’wilkan oleh yang berilmu dan tidak boleh diungkapkan  kepada orang awam kecuali dengan penjelasan yang berbeda .[13] Disini Ibn Rushd tidak menjelaskan lebih jauh tentang standard pengetahuan al-mithal dan al-mumaththal  atau kreteria untuk membenarkan kesahihan pengetahuan mereka tentang kedua-dua hal itu.

Nampaknya asas yang digunakan Ibn Rushd dalam ta’wil adalah Bahasa Arab yang merujuk kepada kebiasaan (adat lisan al-‘Arab) dan kejelasan simbol serta benda yang disimbolkan, terutama adalah kemampuan akal memahami maknanya dengan menggunakan metode demonstratif. Akan tetapi standard bahasa Arab dengan simbol-simbol itu tidak dikaitkan dengan bahasa sebagai simbol suatu konsep yang dijelaskan Nabi dan difahami oleh para sahabat dan tabi’in. Demikian pula proses ta’wil yang dijelaskan seakan-akan menggambarkan bahwa pengetahuan ahl al-burhan adalah taken for granted, benar. Ini bermakna bahwa kebenaran wahyu perlu dikaji ulang  dan tidak memberikan ruang untuk menjelaskan proses bagaimana seharusnya pengetahuan demonstrasi dikaji ulang . Pandangan ini boleh difahami sebagai mendahulukan akal daripada wahyu, yaitu  pandangan yang bertentangan dengan pemikiran salaf, seperti al-Ghazzali, Ibn Hazm, Ibn Taymiyyah atau lainnya. Dengan membatasi makna perkataan الراسخون في العلم berarti ia memberikan otoritas menta’wilkan makna batin al-Qur’an kepada filosof, tanpa mempertimbangkan otoritas Nabi dan para sahabat. Hal ini membahayakan  kemutlakan kebenaran wahyu, walhal pengetahuan para filosof tentang realitas (wujud), yang diperolehi dari metode demonstrasi belum dapat dikatakan final. Dalam masalah doktrin ketuhanan atau konsep tentang Tuhan, misalnya, falsafah Yunani  masih mengandung pertentangan dan berbeda  dari konsep dalam al-Qur’an. Jika Ibn Rushd membahas lebih detail konsep akal tanpa membatasi pada metode demonstrasi falsafah Yunani  kesesuaian akal dan wahyu dapat difahami lebih jelas.

  ______________________________________

[1]  Ibn Rushd, Fasl al-Maqal, ed. Immarah, 1

[2]  The verses are  al-Hashr 2; al-A’raf 184; al-ghashiyah 16-17

[3]  Ibn Rushd, Fasl al-Maqal, ed. Ammarah,  28-29.

[4]  Fasl al-Maqal, ed. Ammarah,  31

[5]  Fasl al-Maqal, ed. Albert N Nadir, p. 52. G.Hourani, Averoes On the Harmony of Religion and Philosophy, London, Luzac & Co, 1976, 65.

[6]  G. Hourani, Averoes,  59

[7]  G. Hourani, Averoes, 59. Klassifikasi ini berbeda  dari klassifikasi kelompok tradisionalist yang diwakili oleh fuqaha’.  Memang klassifikasi ini dimaksudkan untuk tujuan falsafah dan bukan Fiqh. Tapi dalam kitabnya Bidayat al-Mujtahid Ibn Rushd mempertahankan klassifikasi tradisional. Lihat Ibn Rushd, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid, Cairo: al-Halabi, third edition, 1960, 3-6.

[8]  Fasl al-Maqal, ed. Albert N Nadir, 37.

[9]  G. Hourani, Averoes, 51.

[10]  definisi ta’wil  sepenuhnya ialah:

إخراج دلالة اللفظ من الدلالة   المجازية إلى الدلالة  الحقيقية – من غير أن يخلٌ في ذا لك بعادة لسان

العرب في التجوز.

Mengeluarkan (membawa) indikasi lafaz dari yang bersifat metaforikal kepada pengertian sebenar, dengan tanpa menyimpang dari kebiasaan Bahasa Arab dalam metafora. Lihat  Ibn Rushd, Fasl al-Maqal, ed. Ammarah, 32.

[11]  G.Hourani, Averroes, 25.

[12]  Yang dimaksud Ibn Rushd dengan simbol bukanlah bahasa sebagai simbol konsep, tapi suatu konsep itu sendiri yang merupakan simbol (mithal) dari konsep yang lain.

[13] Ibn Rushd, “al-Kashf ‘an Manahij al-Adillah”, terjemahan George Hournai, dalam  Averoes, 78-79

Sumber Artikel : http://hamidfahmy.com/prinsip-hubungan-akal-dan-wahyu-menurut-ibn-rushd/

 

Hilangnya Permata Dunia Islam : Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buti

Marilah kita bersama-sama menghadiahkan al-Fatihah kepada Syaikh  Dr Ramadan al-Buthi, seorang ulama besar dunia Islam yang berasal dari Syria. Allahyarham terbunuh dalam satu tragedi serangan di masjid Iman, Damsyik pagi tadi. Beliau meninggalkan khazanah ilmu Islam yang amat berharga dan tiada ternilai.

Keilmuan beliau cukup tinggi meliputi bidang Fiqh, Usul Fiqh dan banyak lagi cabang ilmu yang lain.

Tempat syahidnya Syaikh Dr Ramadhan Al-Buti di Masjid Al-Imaan. Darah syuhada, dan antaranya darah ulama.

<iframe width=”420″ height=”315″ src=”http://www.youtube.com/embed/tgUMwaCNWL8&#8243; frameborder=”0″ allowfullscreen>

 
1 Comment

Posted by on 22/03/2013 in Kefahaman & Pemikiran Islam

 

Wujudkah Hubungan Antara Undang-Undang Inggeris dan Perundangan Islam?

Is English Law related to Muslim Law?

Old Bailey
One of the mainstays of English justice
 
By Mukul Devichand

In London’s historic “Inns of Court”, barristers practise law in the shadow of the distinctive medieval Temple Church. But does English law really owe a debt to Muslim law?

For some scholars, a historical connection to Islam is a “missing link” that explains why English common law is so different from classical Roman legal systems that hold sway across much of the rest of Europe.

It’s a controversial idea. Common law has inspired legal systems across the world. What’s more, calls for the UK to accommodate Islamic Sharia law have caused public outcry.

The first port of call when looking for an eastern link in the common law is London’s Inns of Court.

“You are now leaving London, and entering Jerusalem,” says Robin Griffith-Jones, the Master of the Temple Church, as he walks around its spectacular rotunda.

The church stands in the heart of the legal district and was built by the Knights Templar, the fierce order of monks-turned-warriors who fought Muslim armies in the Crusades.

London’s historic legal district, with its professional class of independent lawyers, has parallels with the way medieval Islamic law was organised.

In Sunni Islam there were four great schools of legal theory, which were often housed in “madrassas” around mosques. Scholars debated each other on obscure points of law, in much the same way as English barristers do.

There is a theory that the Templars modelled the Inns of Court on Muslim ideas. But Mr Griffith-Jones suggests it is pretty unlikely the Templars imported the madrassa system to England. They were suppressed after 1314 – yet lawyers only started congregating in the Inns of Court after the 1360s.

Perpetual endowment

This doesn’t necessarily rule out the Templars’ role altogether. Medieval Muslim centres of learning were governed under a special legal device called the “waqf” under which trustees guaranteed their independence.

In an oak-panelled room in Oxford, historian Dr Paul Brand explains the significance of the 1264 statute that Walter De Merton used to establish Merton College. He was a businessman with connections to the Knights Templar.

The original 1264 document that established Merton has parallels with the waqf because it is a “perpetual endowment” – a system where trustees keep the college running through the ages. It’s been used as a template across the Western world.

Dr Brand says many branches of Western learning, from mathematics to philosophy, owe a debt of gratitude to Islamic influence.

Advanced Arabic texts were translated into European languages in the Middle Ages. But there’s no record of Islamic legal texts being among those influencing English lawyers.

And Dr Brand pointed out the Knights Templar were, after all, crusaders. They wanted to fight Muslims, not to learn from them, and they were rarely close enough to observe their institutions at work.

But the fact remains that England in the Middle Ages had very distinct legal principles, like jury trial and the notion that “possession is nine tenths of the law”. And there was one other place in Europe that had similar legal principles on the books in the 12th Century.

Jury trial

From the end of the 9th to the middle of the 11th Century, Sicily had Muslim rulers. Many Sicilians were Muslims and followed the Maliki school of legal thought in Sunni Islam.

Maliki law has certain provisions which resemble English legal principles, such as jury trial and land possession. Sicily represented a gateway into western Europe for Islamic ideas but it’s unclear how these ideas are meant to have travelled to England.

Norman barons first invaded Sicily in 1061 – five years before William the Conqueror invaded England. The Norman leaders in Sicily went on to develop close cultural affinities with the Arabs, and these Normans were blood relations of Henry II, the English king credited with founding the common law.

But does that mean medieval England somehow adopted Muslim legal ideas?

There is no definitive proof, because very few documents survive from the period. All we have is the stories of people like Thomas Brown – an Englishman who was part of the Sicilian government, where he was known in Arabic as “Qaid Brun”.

He later returned to England and worked for the king during the period when common law came into being.

There is proof he brought Islamic knowledge back to England, especially in mathematics. But no particular proof he brought legal concepts.

There are clear parallels between Islamic legal history and English law, but unless new historical evidence comes to light, the link remains unproven.

sumber : http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/magazine/7631388.stm

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers