RSS

ESQ 165 : (DISKUSI ILMIAH) WAJARKAH ESQ DI HARAMKAN?

26 Aug

PARA PEMBACA DIJEMPUT HADIR BAGI MENDAPATKAN HURAIAN DAN PENJELASAN.

 
12 Comments

Posted by on 26/08/2010 in ESQ 165 sesat?, Poster

 

12 responses to “ESQ 165 : (DISKUSI ILMIAH) WAJARKAH ESQ DI HARAMKAN?

  1. Jebat

    27/08/2010 at 10:45 am

    TAHNIAH UNTUK SUARAJAGAT – PENEGAK KEBENARAN…
    SAYA DAH KONFIRMASI DGN PEJABAT ESQ LEADERSHIP CENTER, MEREKA TIDAK ADA MENGHANTAR AHLI PANEL UNTUK FORUM INI DAN PIHAK PENGANJUR TELAH PUN DIMAKLUMKAN. HARAP SUARAJAGAT DAPAT MEWAR-WAR HAL INI SUPAYA ORANGRAMAI TIDAK CONFUSE…

     
    • suarajagat

      27/08/2010 at 11:21 am

      terima kasih saudara..
      diskusi ini satu peluang untuk kita mendapatkan penjelasan dari kedua-dua pihak.
      namun saya yakin alumni, ATS dan management ESQ mungkin akan hadir sebagai peserta.
      harap forum ini dapat merungkai pelbagai perkara.

       
  2. nur iman

    28/08/2010 at 12:28 am

    assalamu’alaikum wbt,

    saya merasa terkejut kerana sehingga ini, kurang lapan (8) jam dari event, pihak esq LC tidak ada menghantar sms blast yang biasa saya terima (sebagai seorang BEKAS alumni) tentang apa-apa event sebegini……

    dan tak hantar panel??? kalau sekadar nak bertemu dengan ats dan management, kan itu buang masa saja??

    wallaahu a’laam.

    nur iman.

     
    • suarajagat

      28/08/2010 at 6:55 am

      terima kasih nur iman..
      pihak ESQ pernah kata bahawa pihak mufti tidak pernah memanggil mereka untuk berdialog.
      Hari ini apabila ruang dan peluang diberikan..mereka pula yang menolak.
      Berani kerana benar…

      wallahu’alam…

       
    • shahirah

      28/08/2010 at 9:51 am

      Salam Saudari Nur Iman,

      Sila layari laman web Puan Marhaini Yusoff untuk keterangan lanjut mengenai ketidakhadiran panel ESQ ke forum di atas.

       
  3. shahirah

    28/08/2010 at 9:50 am

    Salam,

    Saya bagi pihak ESQ memaklumkan bahawa pihak ESQ telah menerima arahan untuk tidak menghadiri forum terbuka ini. InsyaAllah satu forum tertutup akan diadakan dalam masa terdekat.
    Sila layari blog pengurus besar ESQ, Puan Marhaini Yusoff di http://www.marhainiyusoff.blogspot untuk keterangan lanjut.

    Sekian, Terima kasih

     
  4. Akela

    28/08/2010 at 12:10 pm

    Salam..

    diharap bro SJ dpt amik info dr diskusi tu sbb sy xdpt nk g tgk. harap² pas diskusi nie, jelas sket maner hak maner batil.. Thankz bro..

     
  5. nur iman

    29/08/2010 at 1:46 am

    assalamu’alaikum wbt,

    saya ada pagi tadi diMasjid Wilayah tetapi nampaknya microfon di kuasai olih alumni esq seperti Datin, Mad Yani, Sharifah Huda dll. Tak dapat nak beri pandangan saya.

    walaubagainmanapun ini satu lagi tulisan dalam web Nahimunkar, untuk telaahan kita bersama (agak ‘heavy reading’):

    ESQ DAN PLURALISME AGAMA[1]

    Oleh Dinar Dewi Kania dan Aji Jumiono,

    mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

    – ESQ tidak boleh sembrono dalam mengambil penemuan-penemuan sains yang masih spekulatif karena teori SQ masih perlu dikritisi tidak semata-mata dengan memodifikasi konsep dengan mencuplik ayat dan hadist yang sepertinya sesuai dengan fenomena sains.

    Sebagai contoh, ketika ESQ menjustifikasi bahwa penemuan God Spot sesuai dengan ajaran Islam, ESQ berpegang dari hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim yang berbunyi ”Di dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila baik daging itu, maka baiklah orangnya. Bila jelek daging itu, maka jeleklah orang itu. Daging itu adalah qalb.” Secara tidak langsung ESQ menyetujui bahwa letak hati atau qalb itu berada di otak sebagaimana penemuan neurosains. Sedangkan penemuan neurosain terbaru pun bisa menyanggah teori tersebut.

    n Ada pernyataan bahwa ESQ seperti oksigen yang tidak berwarna dan netral. Dengan falsafah ini Tim ESQ berharap dapat diterima oleh komunitas manusia universal sesuai dengan konsep God Spot. Pernyataan ini merupakan pernyataan yang berbahaya, karena ilmu tidak netral namun bergantung pada worldview dimana ilmu tersebut dilahirkan.

    n Dalam buku ESQ juga ditemukan pernyataan bahwa suara hati merupakan sumber kebenaran. Suara hati muncul karena keadaan zero (0) atau berserah diri pada Allah (E), sehingga tidak menutupi potensi spiritual (S) yang terletak pada God Spot, pada akhirnya kecerdasan spiritual (SQ) bekerja normal (+). Lalu dijelaskan bahwa pusat keseimbangan manusia ada ketika berjalan sesuai orbit yang berpusat pada God Spot. God spot itu sumber nilai-nilai spiritual yang berlaku universal tanpa memandang perbedaan manusia dan sesuai dengan hukum alam. Untuk mencapai nilai-nilai fitrah atau God spot harus melalu proses berpikir zero (ZMP) artinya berserah diri pada Allah.

    n Pertanyaannya, jika nilai-nilai tersebut universal, apakah nilai-nilai tersebut berasal dari tuhan universal ? pada tuhan siapa kepasrahan harus diberikan pada kondisi Zero ? apakah orang yang memiliki kepercayaan berbeda-beda juga dapat mencapai kondisi zero ? karena Allah adalah Nama Tuhan yang hanya terdapat dalam ajaran Islam. Konsep Tuhan dalam Barat sangat rancu begitu juga dalam agama Hindu, Budha, Konguchu dan lain-lain.

    A. PENDAHULUAN

    Persoalan pokok kehidupan masyarakat di Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya pada umumnya adalah dominasi paham sekularisme yang didorong oleh kehidupan yang serba materialistis. Di banyak negara maju, banyak orang yang terkategori sukses dalam kariernya namun ia merasa tidak bahagia. Setelah sukses ternyata ia hanya menjadi budak waktu yang bekerja untuk memenuhi tuntutan para mitra dan kliennya. Keberhasilannya hanya menjadi ”penjara” bagi dirinya. Mereka tidak bahagia dengan kesuksesannya. Umumnya mereka menyadari telah menaiki tangga yang salah justru setelah mencapai puncak tertinggi dari anak tangga kariernya. Pada akhirnya, uang yang berlimpah, harta, pangkat, kedudukan dan penghormatan bukanlah sesuatu yang mereka cari selama ini. Hal ini menjadi suatu penyakit baru yang dinamakan dengan spiritual pathology atau spiritual illness.

    Fenomena tersebut melahirkan pelatihan spiritual di kalangan eksekutif dan staf perusahaan ternama baik di dalam maupun di luar negeri. Misalnya saja dalam buku Megatrend 2000 (John Naisbit dan Patricia Aburdene) menyampaikan bahwa telah 67.000 pegawai Pacific Bell di California telah mengikuti pelatihan spiritual ala New Age. Demikian pula pegawai P&G, Ford Co, AT&T, General Motors, GE, Johnson&Johnson, Motorolla dan IBM dan lain-lain. Perkembangan pelatihan spiritual di perusahaan-perusahaan Indonesia baik swasta maupun milik pemerintah juga mengalami fenomena yang sama. Sampai tahun 2008 saja telah lebih dari 600.000 orang eksekutif telah mengikuti pelatihan ESQ.Saat ini ESQ seolah menjadi ikon paradigma baru dalam menjalani kehidupan yang penuh turbulensi bagi para professional dan next generation negeri ini. Target dengan adanya ESQ dapat menjadi panduan surfing di samudera kehidupan, senantiasa online dengan pusat kehidupan hakiki, hidup inline dengan garis orbit kehidupan yang sesungguhnya, dan istiqomah tetap berpusat pada kiblat dan garis edar yang benar saat offline[2].

    Namun masyarakat dikejutkan oleh keluarnya fatwa haram dari mufti Malaysia di wilayah persekutuan yang mecakup Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan,[3] berdasarkan Warta Kerajaan: Seri Paduka Baginda, Jilid 54, no. 12, tanggal 17 Juni 2010. Beberapa alasan pengharaman tersebut salah satunya dalam poin pertama (i) mendukung paham liberalisme atau menafsirkan nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) secara bebas, dan paham Pluralisme agama yaitu paham yang mengajarkan semua agama adalah sama dan benar. Kedua-dua paham ini sesat dan boleh membawa kepada kekufuran.[4]

    Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya konsep ESQ dan apakah dalam konsep tersebut teradapat ide-ide pluralisme agama sebagaimana difatwakan oleh mufti Malaysia di wilayah persekutuan.

    B. PELATIHAN ESQ

    ESQ memposisikan diri sebagai lembaga pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia. Dalam profil ESQ yang dikutip pada situs ESQ[5] dinyatakan bahwa ESQ adalah lembaga training independen di bidang SDM yang menggunakan metode ”ESQ Way 165”. Lembaga ini bukan lembaga dakwah, politik, agama, LSM maupun ormas, namun ESQ seperti oksigen yang tidak berwarna dan netral. Dengan falsafah ini Tim ESQ berharap dapat diterima oleh komunitas manusia universal sesuai dengan konsep God Spot yang juga memberikan anggukan universal pada setiap manusia.

    Dalam pengantar buku ESQ Ary Ginanjar menuliskan kata-kata Emha Ainun Nadjib saat konser kenduri cinta di Senayan Jakarta :

    Kalau di dalam buku ini ada Rukun Iman dan Rukun Islam,

    Bukan berarti ekslusifisme aliran atau agama,

    Tapi keinginan untuk menyampaikan kebenaran.

    Kalau di dalam buku ini ada Al Qur’an,

    Itu bukan untuk golongan

    Tapi untuk seluruh umat manusia

    Bukan Al Qur’an untuk Islam

    Bukan dunia untuk Islam

    Tapi Al Qur’an dan Islam untuk dunia

    Pelatihan ESQ menjadi suatu pelatihan spiritual yang dikenal banyak menjangkau kalangan eksekutif. Pelatihan ESQ ini diklaim memadukan prinsip asas dalam Islam, yaitu Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan serta kaidah-kaidah yang tidak bertentangan dengann Islam. Pelatihan ini dianggap [ menjadi fenomena dan harapan baru karena selama ini modul pengembangan sumberdaya manusia, manajemen, kepemimpinan, dan psikologi umumnya menggunakan rujukan Barat yang dikenal sekuler, tetapi ESQ memberikan penawaran alternatif sebuah pelatihan yang berlandaskan nilai-nilai Islam sebagai penyelesaian masalah di tempat kerja, sekolah, universitas dan di dalam institusi keluarga. Menurut mereka, pelatihan yang telah diikuti lebih dari 850 ribu orang ini selama ini menjadi alternatif pengembangan SDM dari yang selama ini menggunakan teori-teori pengembangan SDM dari Barat.

    Tujuan pelatihan ESQ ini para peserta disadarkan akan makna kebahagiaan hakiki yang sesuai dengan fitrah manusia, sehingga dalam training ESQ dan sejenisnya tak jarang dijumpai isak tangis terdengar di segenap sudut ruang, dan kemudian puluhan atau bahkan ratusan peserta training itu tenggelam dalam raungan tangis, dalam sembilu kepedihan dan penyesalan atas segenap dosa yang telah mereka perbuat selama ini. Misalnya saja dalam salah satu segmen training ESQ atau training sejenisnya yang mengusung tema tentang spiritualitas dan etos kerja. Ribuan peserta – termasuk para pejabat BUMN dan pemerintah daerah – telah mengikuti training itu, dan ribuan orang itu selalu tenggelam dalam apa yang saya sebut sebagai momen pengakuan dosa massal dalam haru biru penuh tangisan penyesalan.

    C. KONSEP ESQ

    Dalam bukunya, ESQ menyatakan memadukan rukun iman dan rukun Islam. Konsep ini begitu fenomenal mengingat konsep-konsep manajemen diri dan publik saat konsep ini dicetuskan (sekitar tahun 2000) tengah berkembang pesat teori kepribadian dan pengembangan diri yang berasal dari barat seperti konsep Seven Habits dari Stephen Covey. Publik pun memberikan banyak harapan konsep yang bermuara pada ajaran Islam ini dapat mengimbangi bahkan menggantikan konsep Barat tersebut.

    Dalam pengantar buku ESQnya, Ary Ginanjar menuliskan sebagai berikut :

    Memang nyata-nyata terbukti bahwa konsep rukun iman dan rukun Islam yang dilahirkan kurang lebih 1400 tahun silam adalah konsep kemenangan pribadi dan kemenangan publik saat ini yang begitu populer di seluruh dunia. Berbagai teori barat tentang konsep kemenganan pribadi dan publik yang ada justru semakin membenarkan konsep rukun Iman dan Rukun Islam. Manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau spiritual quotient (SQ). Dan merujuk kepada istilah bi-dimensional tersebut, sebuah upaya penggabungan terhadap ketiga konsep tersebut dilakukan. Lewat sebuah perenungan yang panjang, saya mencoba untuk melakukan sebuah usaha penggabungan dari ketiganya dalam bentuk konsep ESQ (Emotonal Spiritual Quotient) yang dapat memelihara keseimbangan kutub akhirat dan kutub keduniaan. Melalui ESQ akan dibangun suatu prinsip hidup dan karakter berdasarkan Rukun Iman dan Rukun Islam, sehingga akan tercipta suatu kecerdasan emosi dan spiritual sekaligus langkah pelatihan yang sistematis dan jelas. Pada akhirnya akan terbentuk suatu pemahaman visi, sikap terbuka, integritas, konsisten dan kreatif yang didasari atas kesadaran diri serta sesuai dengan suara hati yang terdalam yang pada akhirnya akan menjadikan Islam tidak hanya sebatas agama ritual tetapi juga sebagai ”the way of life”.[7]

    Konsep utama dari ESQ adalah Zero Mind Process (ZMP) sebagai proses penjernihan emosi sehingga mecapai God Spot atau fitrah , 6 asas atau orbit untuk membangun mental, dan 5 prinsip untuk membangun kekuatan pribadi dan sosial ( personal and social strenght). Konsep tersebut kemudian dipatenkan sebagai ESQ model, sebagaimana gambar di bawah ini :

    esq.jpg

    Menurut Ary Ginanjar, ESQ model adalah sebuah mekanisme sistematis untuk me-“manage” ketiga potensi manusia, yaitu body, mind dan soul, dalam satu kesatuan yang integral.[8] Gambar ESQ Model menunjukan enam asas yang berfungsi untuk melindungi pusat orbit, dalam hal ini adalah God Spot. Keenam asas ini berfungsi menjaga agar fitrah di pusat tetap utuh terpelihara. Dan karaktakteristik dari keenam asas ini sesuai dengan sifat dasar manusia (human nature), sejalan dengan hati nurani, dan kehendak alam sebagai cerminan dari kehendak Allah yang Maha Kuasa.[9] Keenam asas tersebut menggambarkan rukun iman. Sedangkan lima lingkaran terluar mengorbit pada titik Tuhan (God Spot) yang menggambarkan rukun Islam.[10]

    Konsep dasar ESQ diawali dengan God Spot yang berupa anggukan universal. Anggukan universal ini disebut juga dengan suara hati. Semua manusia sama dalam rasa ingin memberi, kasih sayang, ingin maju, mengetahui, ingin bersih, memelihara, menolong, melindungi dan menyukai yang indah. Konsep God Spot ini disebut fitrah atau suara hati yang sama pada setiap manusia. Ary Ginanjar menafsirkan surat Al-Araf ayat 172 tentang adanya perjanjian antara Allah dengan ruh manusia sebagai bukti adanya anggukan universal. Ia mencontohkan dengan adanya persetujuan ketika mendengar atau melihat suatu perbuatan baik seperti menyaksikan film bermutu atau membaca buku bermutu, mendengar percakapan yang berkualitas dan lain-lain.[11]

    Ary Ginanjar mempersamakan emosi dengan nafs amarah dan berperan sebagai radar hati . Emosi memiliki dua kondisi kategori yaitu in-line dan offline dari radar orbit. In-line yaitu ketika emosi sesuai dengan hati nurani (God Spot) dan offline ketika tidak sesuai dengan hati nurani. Sedangkan suara hati spiritual adalah nafs mutmainnah.[12] ZMP dapat dicapai melalui penjernihan pikiran manusia sehingga manusia terbebas dari virus dan bakteri belenggu-belenggu negatif yang terbentuk oleh persepsi dan paradigma.[13] Belenggu-belenggu tersebut adalah prasangka negatif, pengaruh prinsip hidup, pengaruh pengalaman, pengaruh kepentingan, pengaruh sudut pandang, pengaruh pembanding, dan pengaruh literatur.[14]

    Nilai spiritual menurut Ary Ginanjar adalah ”nilai-nilai yang berlaku dan diterima oleh semua orang, yang sesuai dan bisa diterima dalam skala lokal, nasional dan regional ataupun internasional.” Dijelaskan lebih lanjut bahwa nilai tersebut harus tetap berada pada orbit spiritual yang dapat diterima oleh seluruh penduduk bumi bahkan penduduk langit, yang merupakan nilai puncak atau ”ultimate value”. Nilai ini merupakan prinsip-prinsip yang dapat diterima dalam bahasa bulan, matahari, bintang dan jiwa manusia yang memiliki fitrah tertinggi.

    Lalu ia menambahkan,

    Yang kita cari adalah nilai kebenaran tertinggi, nilai keadilan tertinggi, nilai cinta dan kasih tertinggi, nilai kesetiaan tertinggi, dan nilai kejujuran tertinggi, yang tidak lagi dibatasi lagi oleh perbedaan manusia. Lalu apakah pusat orbit yang mampu menghasilkan ini semua ? [15]

    Manusia menurut konsep ESQ adalah makhluk spiritual murni, yaitu makhluk yang ditiupkan ruh-ruh spiritual ke dalam tubuh manusia. Sifat-sifat tersebut kemudian dipadukan ke dalam materi konkret berupa tubuh atau jasad manusia yang terbuat dari tanah. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya penemuan ilmiah SQ (Spiritual Quotient) di California University oleh V.S Ramachandran pada tahun 1997, lalu God Spot oleh Michael Persinger, Wolf Singer, dan Rudolfo Llinnas tentang osilasi saraf spiritual. Para ahli tersebut diatas berhasil membuktikan bahwa manusia memiliki makna tertinggi kehidupan manusia (The Ultimate Meaning).[16]

    Ary Ginanjar menegaskan bahwa penemuan God Spot pada manusia lebih meyakinkan pendapat ini, karena akan senantiasa mencari Tuhan-nya, yaitu melalui sifat-sifat-Nya, yang selalu diidam-idamkan manusia dan sekaligus merupakan bukti kepekasaan Allah, penghambaan serta penghambaan manusia.[17] Ia juga menambahkan bahwa hal ini yang dinamakan proto kesadaran yang terdeteksi pada osilasi 40 Hz oleh Pare dan Llinas. Dengan bermodalkan Spritual Quotient (SQ), manusia mengabdi kepada Allah untuk mengelola bumi sebagai khalifah dan misi utamanya semata-mata mencari keridhaan Allah, target utamanya adalah menegakan keadilan, perdamaian dan kemakmuran. Langkah nyatanya berupa spiritualisasi di segala bidang. Inilah yang menurutnya The Ultimate Meaning sesungguhnya, yang harus dicari oleh Danah Zohar, dan yang harus dicari oleh Abraham Maslow, yaitu aktualisasi diri melalui Ihsan.[18]

    Ary Ginanjar juga menciptakan 33 spiritual capital atau collective unconscious yang menciptakan nilai-nilai (value) serta dorongan dari dalam (drive). Sifat-sifat ini menurutnya termasuk kategori ihsan, atau menuju sifat-sifat Allah (taqarub), yang terletak pada spiritual center (God Spot). Nilai-nilai tersebut diikhtisarkan dari 99 Asmaul Husna yang merupakan proto kesadaran yang terdeteksi pada osilasi Pare-Llinas, yang dianggap sebagai arketipe oleh Zohar, yang diduga sebagai super-ego oleh Freud, self-actualization oleh Maslow,

    unconscious-mind oleh Carl Jung, dan dinamakan ”makna hidup” oleh Frankl. Ia lalu menamakan nilai-nilai ini sebagai Asmaul Husna Value Sistem (AHVS) yang menghasilkan ultimate value dan ultimate drive.[19]

    D. KONSEP PLURALISME AGAMA

    Plularisme agama (religious pluralism) adalah sebuah paham (isme) tentang bagaimanana melihat keberagaman dalam agama-agama yang begitu banyak dan beragam. Gagasan ini mulanya tidak dikenal dalam teologi resmi Gereja, namun pihak Kristen kemudian menggunakan paham ini untuk kepentingan mereka dalam penyebaran globalisasi dan westerenisasi.[20] Dalam konsep pluralime agama terdapat pengakuan terhadap eksistensi the one Universal God (uhan Universal God),[21] atau adanya kesamaan tuhan dalam level esoteris sebagaimana teori trancendent unity of Religions yang digagas oleh Frithjof Schuon.

    John Hick sebagai salah satu tokoh utama pluralisme agama, melontarkan gagasan pluralismenya dengan the transformation from religion centered to God-centredness atau transformasi dari pemusatan agama menuju pemusatan Tuhan. Sehingga dua konsep kunci dalam pluralisme adalah konsep ”agama” dan konsep ”tuhan”.[22] Hick menggantikan terminologi Tuhan menjadi The Real yang kemudian dibekan menjadi the ”the Real an sich” atau the noumenal Real ( esensi), dan ”the phenomenal Real” yaitu Zat yang nyata sebagaimana yang tampak oleh manusia melalui kacamata-kacamata tradisi dan agama-agama yang berbeda. The phenomenal Real menyebabkan manusia memiliki tuhan yang dinamakan secara berbeda sesuai kacamata traditisional dan kultural manusia seperti Yahweh, Trinitas, Allah, Krisna, Wisnu, Siwa. Menurut hipotesa Hick seharusnya yang menjadi titik pusat dan pangkal keselamatan/pembebasan/ pencerahan satu-satunya adalah the noumenal Real, yang merupakan realitas ketuhanan yang absolut, tunggal dan tak terbatas oleh segala macam ungkapan, konsepsi, dan pemahaman atau komprehensi manusia.[23]

    Hick mencoba menjustifikasi tesisnya dengan menggunakan teori revolusi Copernican. Menurut Hick, dikutip dari Anis Malik Toha :

    Kini revolusi Copernican dalam astronomi terjadi karena sebuah transformasi dalam cara manusia memahami alam dan posisi mereka di dalamnya. Transformasi ini melibatkan suatu pergeseran dari dogma bahwa bumi adalah pusat dari alam yang berputar mengelilinginya menuju sebuah pemahaman bahwa mataharilah sesungguhnya yang berada di pusat, dan semua planet, termasuk bumi kita, berak mengelilinginya. Dan Revolusi Copernican yang diperlukan dalam teologi melibatkan sebuat tranformasi yang sama radikalnya berkenaan dengan alam agama-agama dan tempat atau posisi agama kita sendiri di dalamnya. Ia melibatkan dogma bahwa Kristen berada di pusat menuju pemahaman bahwa Tuhanlah yang berada di pusat, dan semua agama-agama manusia, termasuk agama kita berputar di sekelilingnya.[24]

    Hick memprediksi bahwa secara gradual akan terjadi converging course (konvergensi cara-cara beragama) yaitu adanya agama lintas kultural dan inklusif yang dikemas dalam ide global theology. Agama baru ini menurutnya akan banyak menolong manusia modern dan dapat membangun kehidupan bersama yang toleran, penuh kedamaian, kesetaraan. [25]

    E. PEMBAHASAN

    Sebagaimana telah dijelaskans sebelumnya bahwa Inti pokok konsep pluralisme adalah pertama; konsep tentang ”agama” yang dianggap sebagai himpunan tradisi kultural, kedua ; konsep ”penyatuan Tuhan”. Konsep God-centeredness ini mengakui adanya ”the one universal God pada level esoteris atau transenden yang menjadi landasan gagasan penyatuan agama-agama (the transcendent unity of religion). Jika melakukan perbandingan secara langsung dengan mencari definisi tentang ”agama’ dan ”tuhan” dalam buku ESQ, maka tidak akan ditemukan pembahasan mengenai masalah tersebut.

    Namun dalam buku ESQ banyak digagas mengenai konsep nilai universal yang merupakan ultimate value yang disebut suara hati yang berasal dari suara Tuhan dan merupakan pusat orbit manusia. Justifikasi ESQ diperoleh dari teori God Spot atau titik tuhan yang ditemukan oleh V.S. Ramachandran dan dikembangkan oleh Danah Zohar dan lain-lain. Dalam membangun teori pluralisme agama, Hick menggunakan teori revolusi Copernican sebagai hujjah ilmiah penguat ide-idenya dengan Tuhan sebagai pusat orbit dan agama-agama sebagai planet yang mengelilinginya. Apakah suatu kebetulah jika ESQ juga menggunakan pergerakan planet mengelilingi matahari sebagai model konseptualnya ?

    Dalam buku ESQ juga ditemukan pernyataan bahwa suara hati merupakan sumber kebenaran.[26] Suara hati muncul karena keadaan zero (0) atau berserah diri pada Allah (E), sehingga tidak menutupi potensi spiritual (S) yang terletak pada God Spot, pada akhirnya kecerdasan spiritual (SQ) bekerja normal (+).[27] Lalu dijelaskan bahwa pusat keseimbangan manusia ada ketika berjalan sesuai orbit yang berpusat pada God Spot. God spot itu sumber nilai-nilai spiritual yang berlaku universal tanpa memandang perbedaan manusia dan sesuai dengan hukum alam. Untuk mencapai nilai-nilai fitrah atau God spot harus melalu proses berpikir zero (ZMP) artinya berserah diri pada Allah.

    Pertanyaannya, jika nilai-nilai tersebut universal, apakah nilai-nilai tersebut berasal dari tuhan universal ? pada tuhan siapa kepasrahan harus diberikan pada kondisi Zero ? apakah orang yang memiliki kepercayaan berbeda-beda juga dapat mencapai kondisi zero ? karena Allah adalah Nama Tuhan yang hanya terdapat dalam ajaran Islam. Konsep Tuhan dalam Barat sangat rancu begitu juga dalam agama Hindu, Budha, Konguchu dan lain-lain.[28] Menurut al-Attas, Islam bukanlah kata benda verbal yang menunjuk pada penyerahan diri, Islam adalah nama sebuah agama yang khusus yang mendeskripsikan penyerahan diri yang benar, yang juga merupakan definisi agama itu; yaitu penyerahan diri pada Tuhan. Cara dan bentuk penyerahan diri dalam suatu agama secara definitif dipengaruhi oleh konsepsi mengenai Tuhan dalam agama itu. Sehingga konsepsi Tuhan dalam agama menjadi sangat krusial agar dapat mengartikulasikan bentuk penyerahan diri yang sesungguhnya. Konsepsi ini menurut al-Attas harus mempu mendeskripsikan sifat Tuhan yang benar, yang hanya bisa diperoleh dari wahyu bukan dari tradisi budaya atau etnis tertentu atau percapmuran antara etnis dan tradidsi budaya dengan kitab suci, tidak suga dari spekulasi filosofis berdasarkan penemuan sains.[29]

    Jawaban terhadap isu-isu yang ditanyakan dalam dokumen yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia pada tanggal 25 Februari 2010, disebutkan bahwa suara hati yang dimaksud oleh ESQ adalah suara hati nurani hak dan kebenaran yang berpadukan dengan al-Qur’an dan Hadist. Mengenai teori God Spot sebagai rujukan pihak ESQ menjawab bahwa ESQ hanya membentangkan penemuan sains semata dan bahwa traning ESQ telah dinyatakan sesuai dengan ajaran Islam, hanya bermaksud fitrah yang berpadukan al-Qur’an dan Hadist atau sunnah nabi.[30]

    ESQ merupakan bukti bahwa Islamisasi tidak bisa dilakukan hanya dengan proses justifikasi. Konsep ESQ dirumuskan dengan melakukan justifikasi terhadap pengalaman dan temuan-temuan sains modern. Islamisasi tidak bisa dilakukan tanpa melakukan dewesternisasi atau memisahkan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat. Dengan tetap mengedepankan prasangka positif, hal ini terjadi pada umumnya disebabkan ketidakpahaman terhadap perbedaan mendasar antara epistemologi Barat dan Islam. Sebuah realita yang memprihatikan karena saat ini umat Islam sedang mengalami apa yang disebut sebagai krisis epistemologi.[31]

    Penulis sependapat dengan pemikiran al-Attas bahwa sains modern harus didalami tetapi asas-asas filosofisnya harus disusun kembali sesuai kerangka metafisika Islam. Adalah benar jika agama (Islam) sejalan dengan sains, namun tidak berarti Islam sejalan dengan metodologi ilmiah dan filsafat sains modern. Tidak ada ilmu yang bebas nilai sehingga menurut al-Atas kita harus meneliti dan mengkaji dengan cerdas dan penilaian yang melekat pada, atau bersatu dengan, pelbagai asumsi dan interpretasi ilmu modern. Kita juga harus melakukan kritisi terhadap setiap teori ilmu atau filsafat yang baru dengan memahami terlebih dahulu implikasinya dan menguji validitas nilainya yang terkandung di dalam teori tersebut.[32] ESQ dalam hal ini tidak boleh sembrono dalam mengambil penemuan-penemuan sains yang masih spekulatif karena teori SQ masih perlu dikritisi tidak semata-mata dengan memodifikasi konsep tersebut dengan mencuplik ayat dan hadist yang sepertinya sesuai dengan fenomena sains tersebut.

    Sebagai contoh, ketika ESQ menjustifikasi bahwa penemuan God Spot sesuai dengan ajaran Islam, ESQ berpegang dari hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim yang berbunyi ”Di dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila baik daging itu, maka baiklah orangnya. Bila jelek daging itu, maka jeleklah orang itu. Daging itu adalah qalb.” Secara tidak langsung ESQ menyetujui bahwa letak hati atau qalb itu berada di otak sebagaimana penemuan neurasains tersebut.[33] Taufik Pasiak dalam bukunya Revolusi IQ/EQ/ SQ juga melakukan justifikasi yang sama. Menurutnya kata qalb dalam hadits tersebut bukan bermakna hati/ jantung (heart dalam bahasa inggris), tetapi lebih tepat dimaknai sebagai otak spiritual karena menurutnya aql memiliki banyak fungsi, yaitu fungsi rasional, fungsi intuitif serta fungsi spiritual. Jika porsi kata aql lebih diperbanyak pada usaha sains, maka kata qalb lebih banyak menunjuk usaha-usaha ruhani.[34]

    Mengenai letak qalb, seorang ulama salaf terkenal yang memiliki otoritas dalam masalah jiwa, Imam al-Ghazaly, menyatakan bahwa qalb sebagai daging yang bersuhu panas berbentuk kusama berada di sisi sebelah kiri dada, di dalam isinya ada rongga yang berisi darah hitam sekali, dan kalbu itu tempat melahirkan jiwa yang bersifat hewani serta tempat asalnya. Dengan pengertian ini, kalbu yang dimaksud al-Ghazaly menunjuk kepada jantung.[35] Begitu juga dengan al-Attas menterjemahkan qalb sebagai heart.Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan mengenai hal tersebut dalam surat al-Hajj (22) ayat 46.

    أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ [الحج/46]

    Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai kalbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qalb yang di dalam dada.

    Tentunya dengan adanya pendapat Iman al-Ghazaly dan penegasan ayat al-Qur’an, Hipotesa yang menyatakan otak sebagai tempat bersemayamnya qalb, perlu mendapatkan penelaahan lebih lanjut karena asumsi tersebut lebih didasarkan atas penemuan dalam bidang neurosain. Dan penemuan neurosain terbaru pun bisa menyanggah teori tersebut. Kerancuan letak qalb didasari banyaknya ayat al-Quran yang menyatakan bahwa qalb selain mengacu kepada emosi manusia juga merupakan fakultas aktif yang berfikir, sehingga jika letak qalb itu benar berada di Jantung sebagaimana pendapat imam Ghazaly, maka sulit membayangkan bagaimana organ jantung dapat memiliki fungsi kognitif seperti otak,

    Namun kini tampak titik terang kebenaran penafsiran ulama salaf yang menyatakan bahwa qalb adalah jantung yang memiliki kemampuan berpikir. Sekumpulan ilmuwan Barat yang aktif melakukan penelitian mengenai hubungan jantung dan otak (heart and brain interaction) telah menemukan fakta menarik mengenai hal ini. Dalam website Institute of HeartMath, para ilmuwan ini menulisan hasil penelitiannya pada e-book berjudul “The Coherent Heart”.[36] Dalam monograf ilmiah tesebut dijelaskan penemuan terbaru mengenai interaksi antara jantung dan otak yang ternyata mempengaruhi berbagai macam aspek dari kemampuan kognitif seorang manusia. Kesimpulan tersebut ditarik setelah kecanggihan alat teknologi kedokteran mampu menemukan sekumpulan ganglia[37] di dalam organ tersebut yang dapat berhubungan dengan otak.[38] Oleh sebab itu, hendaklah ESQ dalam mendefinisikan konsep-konsep kunci seperti pikiran (mind), jiwa (soul), emosi, fitrah, suara hati, suara hati spiritual, natural law, dan lain-lain, dapat menukil tafsiran ulama-ulama salaf dan kontemporer yang memiliki otoritas dalam masalah ini untuk menghindari kerancuan.

    F. PENUTUP

    Konsep ESQ sebagai sebuah modul pelatihan Sumber Daya Manusia mengandung beberapa gagasan yang mengudang kontroversi walaupun untuk membuktikan dakwaan yang menyatakan bahwa ESQ adalah pendukung liberalisme dan pluralisme masih perlu penelitian lebih lanjut dan mendalam, terutama untuk melihat ada tidaknya ide ”persamaan tuhan” pada level esoteris dalam ajaran ESQ, ataupun gagasan-gagasan lainnya seperti Asmaul Husna Value System (AHVS) dan tafsirannya yang tidak dibahas dalam makalah ini.

    Jawaban pertanyaan ini sangat krusial dalam rangka identifikasi adanya unsur pluralisme agama dalam kosep ESQ karena, pertama, dalam kebijakan ESQ Leadership Center tidak membatasi peserta pelatihan pada mereka yang beragama Islam. Peserta dengan latar belakang agama berbeda juga diperbolehkan mengikuti pelatihan ESQ. Dengan dibolehkannya non-muslim mengikuti pelatihan ini, dapat menjadi indikasi bahwa kondisi Zero dapat dicapai oleh siapa saja, asalkan melakukan penyerahan diri pada tuhan. Kedua, adanya pernyataan bahwa ESQ seperti oksigen yang tidak berwarna dan netral. Dengan falsafah ini Tim ESQ berharap dapat diterima oleh komunitas manusia universal sesuai dengan konsep God Spot. Pernyataan ini merupakan pernyataan yang berbahaya karena ilmu tidak netral namun bergantung pada worldview dimana ilmu tersebut dilahirkan, sehingga ESQ perlu menjelaskan bentuk kenetralan dan universalitas yang dimaksud dalam pernyataan tersebut.

    Sejauh ini penulis hanya mendapatkan data dari jawaban ESQ terhadap dakwaan bahwa ESQ mendukung liberalisme dan menyebarkan pluralisme. Disebutkan bahwa bahwa ESQ menolak keras dakwaan tersebut karena definisi dan ciri-ciri pluralisme tidak terdapat dalam buku-buku ESQ. Kemudian ESQ menjelaskan tentang ciri-ciri liberalisme dan pluralisme, namun sayangnya jawaban tersebut tidak diberi komentar atau bukti-bukti yang kuat.

    Selain dewan syariah, ESQ juga harus berkonsultasi dengan orang-orang yang memiliki worldview Islam dan paham mengenai epistemologi Barat dan Islam, agar pada saat melakukan Islamisasi konsep dan teori pelatihan manajemen diri, tidak terjadi kerancuan yang menyesatkan dalam hal pemikiran maupun praktek. Semangat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara global dan universal tentunya jangan sampai terjebak kepada pemahaman yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam sehingga ajaran Islam kemudian ditundukan oleh konsep dan teori Barat serta penemuan-penemuan dalam bidang sains yang masih bersifat spekulatif. Hal ini diperlukan untuk menghindari pengalaman Barat ketika ajaran Kristen akhirnya harus tunduk oleh sekularisme dan pluralisme dalam rangka menyesuaikan agama mereka dengan tuntutan globalisasi.

    [1] Ditulis oleh Dinar Dewi Kania dan Aji Jumiono, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII Universitas Ibn Khaldun, Bogor. Makalah ini dipresentasikan dalam diskusi sabtuan Insists pada tanggal 17 Juli 2010.

    [2] Muhammad Religineer dalam Pengantar dalam buku ESQ Power, cetakan ke-14, Jakarta : Arga Publishing, 2009, hlm xii.

    [3] ESQ Way 165, , Tokoh Agama Indonesia dan Malaysia ; ESQ tidak menyimpang, Republika Nomor 181/ tahun ke-18, Selasa, 13 Juli 2010.

    [4] http://www.muftiwp.gov.my/pmwp/profail_jabatan_files/fatwa_esq.pdf

    [5] http://www.esqway165.com

    [6] Tim ESQ Leadership Center, Sdn, Bhd. Jawapan Kepada “Isu-isu yang Ditanyakan oleh Alumni ESQ”. Edaran Terhad (SULIT). 25 Februari 2010.

    [7] Ary Ginanjar Agustian. Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ) Berdasarkan Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Jakarta : Penerbit Arga. 2001, hlm. xix-xxi.

    [8] Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power, hlm.28

    [9] Ibid, hlm.66

    [10] Ibid, hlm 179

    [11] Ary Ginanjar Agustian. Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ), hlm 10-11.

    [12]Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power. hlm. 144

    [13] Ibid, hlm. 145 dan152

    [14] Ibid, hlm. 145 – 147

    [15] Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power, hlm. 188.

    [16] Ibid, hlm. 96.

    [17] Ibid, hlm. 99.

    [18] Ibid, hlm. 103.

    [19] Ibid, hlm. 104.

    [20] Adian Husaini,

    [21] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Respon Islam terhadap Kesatuan Agama-agama, Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia, Thn I no. 3, 2004, hlm. 43.

    [22] Anis Malik Toha, Konsep World Theology dan Global Theology ; Eksposisi Doktrin Pluralisme Agama, Smith dan Hick, Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA Thn I No. 4, 2005, hlm. 55

    [23] Ibid, hlm. 57

    [24] Ibid, hlm. 59

    [25] Ibid, hlm 54-59

    [26] Ary Ginanjar, ESQ, hlm. Iiv

    [27] Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power, hlm. 210.

    [28] Al-Attas menyatakan sifat Tuhan yang dipahami Islam, tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam doktrin dan tradisi keagamaan lain di dunia. Ia juga tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam tradisi filsafat Yunani dan Helenistik. Ia tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam filsafat Barat atau tradisi sains; juga tidak sama dengan yang dipahami dalam tradisi mistisme Timur dan Barat. Kalaupun ada kemiripan yang mungkin ditemukan antara sifat Tuhan yang dipahami dalam Islam dengan berbagai macam konsepsi agama lain, maka itupun tidak bisa ditafsirkan sebagai bukti bahwa tuhan yang dimaksud adalah sama, yakni Tuhan Universal Yang Esa (The One Universal God), karena masing-masing konsep tersebut digunakan sesuai dengan dan termasuk dalam sistem dan kerangka konseptual yang berbeda-beda, sehingga konsepsi tersebut merupakan suatu kesluran, atau super system, tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Respon Islam terhada[p Konsep Kesatuan Agama-agama, hlm. 44 .

    Syed Muhammad Naquib al-Attas, Respon Islam terhada[p Konsep Kesatuan Agama-agama, hlm. 47.

    [30] Dokumen ESQ Center yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia, hlm. 7

    [31] Wan Mohd Nor Wan Daud, FIlsafat dan Praktek Pendidikan Islam, hlm. 335

    [32] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, Jakarta : Mizan, 1998, hlm.392.

    [33] Dokumen ESQ Center yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia.

    [34] Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/ SQ, hlm. 29-30. Para ahli otak menemukan bahwa kecerdasan spiritual itu berakar kuat dalam otak manusia. Setidaknya ada empat bukti penelitian yang memperkuat dugaan adanya potensi spiritual dalam otak manusia :1) Osilasi 40 Hz yang ditemukan oleh Denis Pare dan Rudopho Llinas, yang kemudian dikembangkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, 2) Alam bawah sadar kognitif yang ditemukan oleh Joseph deLoux dan kemudian dikembangkan menjadi emotional intelligence oleh Daniel Goleman serta Robert Cooper dengan konsep suara hati, 3) God Spot pada daerah temporal yang ditemukan oleh Michael Pesinger dan Vilyanur Ramachandran, serta bukti gangguan perilaku moral pada pasien dengan kerusakan lobus prefrontal, dan 4) Somatic Marker oleh Antonio Damasio. Keempat bukti itu memberikan informasi tentang adanya hati nurani atau intuisi dalam otak manusia, sehingga penelitian ini memperkuat keyakinan bahwa manusia tidak mungkin lari dari Tuhan. Lihat Pasiak, hlm. 27.

    [35] Imam al-Ghazaly, Teori dasar Penyucian Jiwa, Jakarta : Nur Insani, 2003, hlm. 44.

    [36] The Coherent Heart ditulis oleh Rollin McCraty, Ph.D., Mike Atkinson, Dana Tomasino, B.A., and Raymond Trevor Bradley, Ph.D. Tentang monograph tersebut dijelaskan dalam situs resminya, “…It provides an in-depth understanding of the role of the heart role in the emergence of systemwide coherence and new research findings on how heart-brain interactions affect various aspects of cognitive performance. The Coherent Heart explores communication within and among the body’s systems through the generation and transmission of rhythms and patterns in the nervous and hormonal systems. Using the pattern of the heart’s rhythmic activity as the primary physiological marker, six different modes of psychophysiological function are identified, distinguished by their physiological, mental, and emotional correlates. lihat http://www.heartmath.org/research/research-our-heart-brain.html

    [37] Mengenai ganglia atau ganglion disebutkan “In neurological contexts, ganglia are composed mainly of somata and dendritic structures which are bundled or connected together. Ganglia often interconnect with other ganglia to form a complex system of ganglia known as a plexus. Ganglia provide relay points and intermediary connections between different neurological structures in the body, such as the peripheral and central nervous systems. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Ganglion.

    [38] Keterangan tentang hubungan antara jantung dengan otak dapat dilihat pada situs IHM

    http://www.heartmath.org/research/research-our-heart-brain.html

     
  6. nur iman

    29/08/2010 at 1:53 am

    assalamu’alaikum wbt,

    saya ingin memberi pandangan yang adil terhadap pembentangan Kiai Amin Jamaludin tadi, merujuk pada senarai nama-nama Allah yang beliau tunjuk, yang mana ada tiga kolum:

    1. nama Allah 2. kata ganti 3. maknanya

    kertas ini pernah diedarkan semasa esq mengadakan program mengingat asma ulhusna diHotel diChow Kit (saya tak ingat nama yang tepat). kata ganti itu (contoh: haddad alwi, muka amien rais, dsbnya) bertujuan untuk membantu proses mengingati nama-nama Allah.

    tetapi tidak dinafikan nama-nama ganti itu amat meng’hina’ Allah.

    dan juga makna yang di berikan kepada setiap asma’ itu juga MENYELEWENG.

    peristiwa ini berlaku sekitar 2006.

    wallaahu a’laam.

    NUR IMAN.

     
  7. nur iman

    31/08/2010 at 3:37 pm

    Assalamu’alaikum wbt.

    Alhamdulillah, dengan nafas yang ada, kita masih diberi peluang olih Allah untuk mencari-cari Malam Al Qadr itu. Selawat dan salam buat Nabi Muhammad saw, nabi dan rasul penutup, tiada lagi rasul selain Baginda, tiada lagi wahyu selain nya; Islam itu sudah lengkap dan tidak memerlukan kepada ciptaan dan rekaan atau penambahan kepada aqidah atau syariat.

    Sudah banyak diperkatan sepanjang bulan Ramadhan ini berkenaan esq, maka saya suka nak buat rumusan peribadi saya buat setakat ini:

    1. Mufti WP telah mengeluarkan fatwa pengharaman esq.

    2. Rasa-rasa hanya satu dua Mufti saja yang benar-benar menyokong esq; yang lain sedang mengumpulkan maklumat untuk mensyuarat Jawatankuasa Fatwa negeri masing-masing, kemungkinan selepas Hari Raya;

    3. Lawatan Kiai Amin Jamaludin ke Malaysia dan dialog diMasjid WP mengukuhkan pandangan bahwa esq wajar di haramkan (oilh semua negeri diMalaysia).

    Saya berani berkata begini kerana:

    a. Majlis Muzakarah Kebangsaan, didalam surat kebenaran untuk Esq diteruskan, menetapkan bahawa esq “ada masaalah dan perlu diperbetulkan oilh Jawatankuasa Pemanatau esq”.

    b. esq LC sdn bhd dan ary ginanjar tidak menunjukan kesungguhan untuk menerima, menjawab dan membahas kesalahan yang telah ditunjukan oilh Mufti WP dan Panel diIndonesia yang bersidang pada 17 Julai 2010 (salah seorang panelnya Kiai Amin Jamaludin). Ary tidak hadhir dengan alasan ada undangan keMalaysia. (Sesiapa yang ada pengalaman sedikit bolih merasakan kelicikan ary dan esq LC sdn bhd di dalam hal ini: cuba menyalahkan Mufti WP secara teknikal, tidak menghantar ahli panel dan menghalang alumni esq ke majlis di Masjid WP dan sebaliknya akan mengadakan forum tertutup sendiri, tidak menghadiri program MUI di Jakarta, dsbnya EMOSI unutk berdailog dengan Ust Aizam melalui surat terbukanya ).

    c. Segelintir para alumni esq sudah kelihatan “militant” dalam approach mereka: sesiapa yang hadir di Masjid WP 28 Ogos bolih mengesan sentimen itu dengan ketara. Tidak Nampak sifat mahmudah, disiplin, menghormati orang lain, seperti yang diklaim olih ary sebagai kesan mengikuti latihan esq; bukankah membazir duit sekiranya peserta yang pergi latihan tidak mendapat nilai-nilai murni yang dijanjikan oilh esq LC dan ary???sebaliknya EMOSI mereka sudah terangsang kuat, menyebabkan ketidakseimbangan emosi dan akal fikiran. Sekiranya ini berterusan dan esq berkembang luas, ia bolih menjejaskan keamanan dan harmoni yang selama ini dikecap oilh rakyat Malaysia.

    d. Sebenarnya sejak dulu, para alumni esq dididik olih Manajemen dan Trainers supaya bersifat militan dan suka menyalahkan pihak Mufti, Majlis-Majlis Agama negeri, Jabatan-Jabatan Agama Negeri, contohnya: kiranya ditegur kenapa program latihan esq habis 2 minit sebelum masuk waktu solat Jumaat, maka pemimpin akan jawab: “itu, berapa ramai orang Islam tak solat langsung, kenapa JAIS/JAWI tak buat kerja????” atau “kenapa Mufti tak buat kerja?”
    yang ketara ialah sepertimana pengikut Arqam suka lawan Kerajaan, begitu juga pengikut esq di tanamkan sifat yang sama. Mereka rasa mereka saja yang akan membawa umat Islam Malaysia masuk syurga. Perasaan sebegini dapat dikesan dari dialog diMasjid WP 28 Ogos olih para alumni esq. Padahal apakah sebelum ini mereka belum Islam? Apakah tiada Ustaz-ustaz, badan dakwah, NGO, Majlis dan Jabatan Agama yang dok buat kerja? (CUMA MUNGKIN SEMUA MAJLIS AGAMA KENA BUAT KAT HOTEL BARU MEREKA NAK IKUT???APAKAH RASULULLAH MENGEMBANGKAN ISLAM HANYA DIISTANA-ISTANA????)

    E. Perlu diingat Nurcholis Majid (pengembang Islam Liberal Indonesia menumpukan usahanya kepada golongan middle-class (elit) dan begitu juga esq menumpukan kepada golongan middle-class: yang mampu bayar RM1,380. Ada persamaan??? Golongan marhain adalah tidak penting kerana tidak ada kuasa.

    f. Snouck Hugronje, yang belajar ilmu Islam diLaiden, Belanda, mengatakan kepada Kerajaan Belanda zaman 1800 supaya menumpukan serangan mereka kepada golongan “ulama” dan bukan kepada orang awam atau semi-militer Aceh sekiranya ingin berjaya menudukkan Aceh Nagoro Islam. Snouck membuat kawan dengan ulama Aceh diMakkah, yang menghubungkan beliau dengan ulama yang ada diAceh. Snouck memeluk Islam diMakkah sehinggakan ulama Makkah hormat padanya; ia pergi keAceh dan diterima sebagai ulama Islam authentic, menulis kitab-kitab (yang sehingga ini menjadi rujukan diIAIN, Institu Agama Islam Negeri, Indonesia). Dengan hasil kajian Snouck yang menjadi “Trojan Horse” Negara Aceh dapat di tundukkan Belanda. Selepas mengahwini tiga anak Tuan-Tuan Guru dan beranak cucu,Snouck meninggalkan Aceh, pulang keBelanda, kawin dengan Kristian Belanda dan dalam biografinya, mengaku beliau bukan Islam. (Golongan apakah di Malaysia ini yang Nampak “pecah” atas isu esq?????)

    g. Penasihat kepada Majalah Nebula (majalah terbitan esq di Indonesia) adalah seorang penyebar kuat islam Liberal.

    h. Saya pernah mendengar bahwa anak dan isteri Yusuf Kala (bekas Timbalan Presiden Indonesia) adalah diantara ATS (Alumni Training Support) esq Jakarta. Yusuf Kala terkenal sebagai penyokong kuat Islam Liberal Indonesia. (Lihat saja website-website Islam Liberal,mereka dengan bangganya menyiarkan nama-nama mereka kerana Islam Liberal sudah menjadi “way of life” dikalangan elit Indonesia).

    i. antara dialog Trainer esq Malaysia: “ kami tahu ada orang Hindu, Kristian, Buddha didalam training ini,
    tapi teruskan berdoa, kami YAKIN tuhan tuan mendengar!!!”
    Apakah ini bukan menunjukan Islam Plural: kepercayaan SEMUA AGAMA SAMA???

    Saya rasa maklumat sudah cukup untuk setiap Majlis Fatwa negeri membuat keputusan masing-masing. Umat Islam Malaysia menanti-nanti bantuan untuk diselamatkan daripada pengembangan Islam Liberal/Plural di Malaysia.

    Lihat sendiri umat Islam Indonesia diam mana yang handak menganut Islam yang authentik sudah tertekan dan suasana amat mengelirukan.

    apakah kita ingin melihat anak cucu kita didalam keadaan yang sama???

    Nur Iman.

     
  8. nur iman

    01/09/2010 at 12:28 am

    Assalamu’alaikum wbt,

    Saya turunkan di sini laporan dari the Scientific American yang mengatakan bahawa: BANYAK KAJIAN MULAI TAHUN 2001 MENUNJUKKAN BAHAWA THE “GOD-SPOT DOES NOT EXIST”.

    Ini menunjukkan bahawa Pak Ary telah membuat suatu PEMBOHONGAN KERANA MENGGUNAKAN THEORY GOD-SPOT SEOLAH-OLAH IA SUATU KAJIAN YANG TIDAK DAPAT DISANGKAL LAGI (undisputed). INI JUGA ‘MEMPERBUDAKKAN DAN MEMPERBODOHKAN’ 800,000 ALUMNI NYA kerana mereka telah pergi merata-rata menjaja the God-Spot Theory padahal ia bukan suatu RESULT yang “CONCLUSIVE”.

    MAAFKAN SAYA KERANA MELETAKKAN ARTICLE YANG BEGITU PANJANG DISINI, TETAPI UNTUK MENCARI KEBENARAN, HARAP DIMAAFKAN:

    by David Biello
    From the October 2007 issue of

    Scientific American Mind
    from ScientificAmerican Website

    The doughnut-shaped machine swallows the nun, who is outfitted in a plain T-shirt and loose hospital pants rather than her usual brown habit and long veil. She wears earplugs and rests her head on foam cushions to dampen the device’s roar, as loud as a jet engine.

    Supercooled giant magnets generate intense fields around the nun’s head in a high-tech attempt to read her mind as she communes with her deity.

    Image:

    Neural Correlates of a Mystical Experience in Carmelite Nuns, by M. Beauregard and V. Paquette,

    in Neuroscience Letters, Vol. 405, No. 3; 2006.

    Reproduced with permission of Elsevier
    MYSTICAL HOT SPOTS:

    In a 2006 study the recall by nuns of communion with God

    invigorated the brain’s caudate nucleus, insula, inferior parietal lobe (IPL)

    and medial orbitofrontal cortex (MOFC), among other brain regions.

    The Carmelite nun and 14 of her Catholic sisters have left their cloistered lives temporarily for this claustrophobic blue tube that bears little resemblance to the wooden prayer stall or sparse room where such mystical experiences usually occur. Each of these nuns answered a call for volunteers “who have had an experience of intense union with God ” and agreed to participate in an experiment devised by neuroscientist Mario Beauregard of the University of Montreal.

    Using functional magnetic resonance imaging (fMRI), Beauregard seeks to pinpoint the brain areas that are active while the nuns recall the most powerful religious epiphany of their lives, a time they experienced a profound connection with the divine.

    The question: Is there a God spot in the brain?

    The spiritual quest may be as old as humankind itself, but now there is a new place to look: inside our heads. Using fMRI and other tools of modern neuroscience, researchers are attempting to pin down what happens in the brain when people experience mystical awakenings during prayer and meditation or during spontaneous utterances inspired by religious fervor.

    Such efforts to reveal the neural correlates of the divine—a new discipline with the warring titles “neurotheology” and “spiritual neuroscience”—not only might reconcile religion and science but also might help point to ways of eliciting pleasurable otherworldly feelings in people who do not have them or who cannot summon them at will. Because of the positive effect of such experiences on those who have them, some researchers speculate that the ability to induce them artificially could transform people’s lives by making them happier, healthier and better able to concentrate.

    Ultimately, however, neuroscientists study this question because they want to better understand the neural basis of a phenomenon that plays a central role in the lives of so many.

    “These experiences have existed since the dawn of humanity. They have been reported across all cultures,” Beauregard says. “It is as important to study the neural basis of [religious] experience as it is to investigate the neural basis of emotion, memory or language.”

    Mystical Misfirings

    Scientists and scholars have long speculated that religious feeling can be tied to a specific place in the brain. In 1892 textbooks on mental illness noted a link between “religious emotionalism” and epilepsy. Nearly a century later, in 1975, neurologist Norman Geschwind of the Boston Veterans Administration Hospital first clinically described a form of epilepsy in which seizures originate as electrical misfirings within the temporal lobes, large sections of the brain that sit over the ears.

    Epileptics who have this form of the disorder often report intense religious experiences, leading Geschwind and others, such as neuropsychiatrist David Bear of Vanderbilt University, to speculate that localized electrical storms in the brain’s temporal lobe might sometimes underlie an obsession with religious or moral issues.

    Exploring this hypothesis, neuroscientist Vilayanur S. Ramachandran of the University of California, San Diego, asked several of his patients who have temporal lobe epilepsy to listen to a mixture of religious, sexual and neutral words while he tested the intensity of their emotional reactions using a measure of arousal called the galvanic skin response, a fluctuation in the electrical resistance of the skin.

    In 1998 he reported in his book Phantoms in the Brain, co-authored with journalist Sandra Blakeslee, that the religious words, such as “God,” elicited an unusually large emotional response in these patients, indicating that people with temporal lobe epilepsy may indeed have a greater propensity toward religious feeling.

    The key, Ramachandran speculates, may be the limbic system, which comprises interior regions of the brain that govern emotion and emotional memory, such as the amygdala and hypothalamus. By strengthening the connection between the temporal lobe and these emotional centers, epileptic electrical activity may spark religious feeling.

    To seal the case for the temporal lobe’s involvement, Michael Persinger of Laurentian University in Ontario sought to artificially re-create religious feelings by electrically stimulating that large subdivision of the brain. So Persinger created the “God helmet,” which generates weak electromagnetic fields and focuses them on particular regions of the brain’s surface.

    In a series of studies conducted over the past several decades, Persinger and his team have trained their device on the temporal lobes of hundreds of people. In doing so, the researchers induced in most of them the experience of a sensed presence—a feeling that someone (or a spirit) is in the room when no one, in fact, is—or of a profound state of cosmic bliss that reveals a universal truth. During the three-minute bursts of stimulation, the affected subjects translated this perception of the divine into their own cultural and religious language — terming it God, Buddha, a benevolent presence or the wonder of the universe.

    Persinger thus argues that religious experience and belief in God are merely the results of electrical anomalies in the human brain. He opines that the religious bents of even the most exalted figures—for instance, Saint Paul, Moses, Muhammad and Buddha — stem from such neural quirks. The popular notion that such experiences are good, argues Persinger in his book Neuropsychological Bases of God Beliefs (1987), is an outgrowth of psychological conditioning in which religious rituals are paired with enjoyable experiences. Praying before a meal, for example, links prayer with the pleasures of eating.

    God, he claims, is nothing more mystical than that.

    Expanded Horizons

    Although a 2005 attempt by Swedish scientists to replicate Persinger’s God helmet findings failed, researchers are not yet discounting the temporal lobe’s role in some types of religious experience. After all, not all such experiences are the same. Some arise from following a specific religious tradition, such as the calm Catholics feel when saying the rosary.

    Others bring a person into a perception of contact with the divine. Yet a third category might be mystical states that reveal fundamental truths opaque to normal consciousness. Thus, it is possible that different religious feelings arise from distinct locations in the brain. Individual differences might also exist. In some people, the neural seat of religious feeling may lie in the temporal lobe, whereas in others it could reside elsewhere.

    Indeed, University of Pennsylvania neuroscientist Andrew Newberg and his late colleague, Eugene d’Aquili, have pointed to the involvement of other brain regions in some people under certain circumstances. Instead of artificially inducing religious experience, Newberg and d’Aquili used brain imaging to peek at the neural machinery at work during traditional religious practices. In this case, the scientists studied Buddhist meditation, a set of formalized rituals aimed at achieving defined spiritual states, such as oneness with the universe.

    When the Buddhist subjects reached their self-reported meditation peak, a state in which they lose their sense of existence as separate individuals, the researchers injected them with a radioactive isotope that is carried by the blood to active brain areas. The investigators then photographed the isotope’s distribution with a special camera—a technique called single-photon-emission computed tomography (SPECT).

    The height of this meditative trance, as they described in a 2001 paper, was associated with both a large drop in activity in a portion of the parietal lobe, which encompasses the upper back of the brain, and an increase in activity in the right prefrontal cortex, which resides behind the forehead. Because the affected part of the parietal lobe normally aids with navigation and spatial orientation, the neuroscientists surmise that its abnormal silence during meditation underlies the perceived dissolution of physical boundaries and the feeling of being at one with the universe.

    The prefrontal cortex, on the other hand, is charged with attention and planning, among other cognitive duties, and its recruitment at the meditation peak may reflect the fact that such contemplation often requires that a person focus intensely on a thought or object.

    Neuroscientist Richard J. Davidson of the University of Wisconsin–Madison and his colleagues documented something similar in 2002, when they used fMRI to scan the brains of several hundred meditating Buddhists from around the world. Functional MRI tracks the flow of oxygenated blood by virtue of its magnetic properties, which differ from those of oxygen-depleted blood. Because oxygenated blood preferentially flows to where it is in high demand, fMRI highlights the brain areas that are most active during—and thus presumably most engaged in—a particular task.

    Davidson’s team also found that the Buddhists’ meditations coincided with activation in the left prefrontal cortex, again perhaps reflecting the ability of expert practitioners to focus despite distraction. The most experienced volunteers showed lower levels of activation than did those with less training, conceivably because practice makes the task easier. This theory jibes with reports from veterans of Buddhist meditation who claim to have reached a state of “effortless concentration,” Davidson says.

    What is more, Newberg and d’Aquili obtained concordant results in 2003, when they imaged the brains of Franciscan nuns as they prayed. In this case, the pattern was associated with a different spiritual phenomenon: a sense of closeness and mingling with God, as was similarly described by Beauregard’s nuns.

    “The more we study and compare the neurological underpinnings of different religious practices, the better we will understand these experiences,” Newberg says.

    “We would like to [extend our work by] recruiting individuals who engage in Islamic and Jewish prayer as well as revisiting other Buddhist and Christian practices.”

    Newberg and his colleagues discovered yet another activity pattern when they scanned the brains of five women while they were speaking in tongues—a spontaneous expression of religious fervor in which people babble in an incomprehensible language. The researchers announced in 2006 that the activity in their subjects’ frontal lobes—the entire front section of the brain—declined relative to that of five religious people who were simply singing gospel.

    Because the frontal lobes are broadly used for self-control, the research team concluded that the decrement in activity there enabled the loss of control necessary for such garrulous outbursts.

    Spiritual Networking

    Although release of frontal lobe control may be involved in the mystical experience, Beauregard believes such profound states also call on a wide range of other brain functions. To determine exactly what might underlie such phenomena, the Quebecois neuroscientist and his colleagues used fMRI to study the brains of 15 nuns during three different mental states. Two of the conditions—resting with closed eyes and recollecting an intense social experience—were control states against which they compared the third: reminiscence or revival of a vivid experience with God.

    As each nun switched between these states on a technician’s cue, the MRI machine recorded cross sections of her brain every three seconds, capturing the whole brain roughly every two minutes. Once the neural activity was computed and recorded, the experimenters compared the activation patterns in the two control states with those in the religious state to elucidate the brain areas that became more energized during the mystical experience.

    (Although Beauregard had hoped the nuns would experience a mystical union while in the scanner, the best they could do, it turned out, was to conjure up an emotionally powerful memory of union with God. “God can’t be summoned at will,” explained Sister Diane, the prioress of the Carmelite convent in Montreal.)

    The researchers found six regions that were invigorated only during the nuns’ recall of communion with God. The spiritual memory was accompanied by, for example, increased activity in the caudate nucleus, a small central brain region to which scientists have ascribed a role in learning, memory and, recently, falling in love; the neuroscientists surmise that its involvement may reflect the nuns’ reported feeling of unconditional love. Another hot spot was the insula, a prune-size chunk of tissue tucked within the brain’s outermost layers that monitors body sensations and governs social emotions. Neural sparks there could be related to the visceral pleasurable feelings associated with connections to the divine.

    And augmented activity in the inferior parietal lobe, with its role in spatial awareness—paradoxically, the opposite of what Newberg and Davidson witnessed—might mirror the nuns’ feeling of being absorbed into something greater. Either too much or too little activity in this region could, in theory, result in such a phenomenon, some scientists surmise.

    The remainder of the highlighted regions, the researchers reported in the September 25, 2006, issue of Neuroscience Letters, includes the medial orbitofrontal cortex, which may weigh the pleasantness of an experience; the medial prefrontal cortex, which may help govern conscious awareness of an emotional state; and, finally, the middle of the temporal lobe.

    The quantity and diversity of brain regions involved in the nuns’ religious experience point to the complexity of the phenomenon of spirituality.

    “There is no single God spot, localized uniquely in the temporal lobe of the human brain,” Beauregard concludes.

    “These states are mediated by a neural network that is well distributed throughout the brain.”

    Brain scans alone cannot fully describe a mystical state, however. Because fMRI depends on blood flow, which takes place on the order of seconds, fMRI images do not capture real-time changes in the firing of neurons, which occur within milliseconds.

    That is why Beauregard turned to a faster technique called quantitative electroencephalography (EEG), which measures the voltage from the summed responses of millions of neurons and can track its fluctuation in real time. His team outfitted the nuns with red bathing caps studded with electrodes that pick up electric currents from neurons. These currents merge and appear as brain waves of various frequencies that change as the nuns again recall an intense experience with another person and a deep connection with God.

    Beauregard and his colleagues found that the most prevalent brain waves are long, slow alpha waves such as those produced by sleep, consistent with the nuns’ relaxed state. In work that has not yet been published, the scientists also spotted even lower-frequency waves in the prefrontal and parietal cortices and the temporal lobe that are associated with meditation and trance.

    “We see delta waves and theta waves in the same brain regions as the fMRI,” Beauregard says.

    Fool’s Errand?

    The brain mediates every human experience from breathing to contemplating the existence of God. And whereas activity in neural networks is what gives rise to these experiences, neuro-imaging cannot yet pinpoint such activity at the level of individual neurons. Instead it provides far cruder anatomical information, highlighting the broad swaths of brain tissue that appear to be unusually dynamic or dormant.

    But using such vague structural clues to explain human feelings and behaviors may be a fool’s errand.

    “You list a bunch of places in the brain as if naming something lets you understand it,” opines neuropsychologist Seth Horowitz of Brown University.

    Vincent Paquette, who collaborated with Beauregard on his experiments, goes further, likening neuro-imaging to phrenology, the practice in which Victorian-era scientists tried—and ultimately failed—to intuit clues about brain function and character traits from irregularities in the shape of the skull.

    Spiritual neuroscience studies also face the profound challenge of language. No two mystics describe their experiences in the same way, and it is difficult to distinguish among the various types of mystical experiences, be they spiritual or traditionally religious. To add to the ambiguity, such feelings could also encompass awe of the universe or of nature.

    “If you are an atheist and you live a certain kind of experience, you will relate it to the magnificence of the universe. If you are a Christian, you will associate it with God. Who knows? Perhaps they are the same,” Beauregard muses.

    Rather than attempting to define religious experience to understand it, some say we should be boiling it down to its essential components.

    “When we talk about phenomena like a mystical experience, we need to be a lot more specific about what we are referring to as far as changes in attention, memory and perception,” Davidson says.

    “Our only hope is to specify what is going on in each of those subsystems,” as has been done in studies of cognition and emotion.

    Other research problems abound. None of the techniques, for example, can precisely delineate specific brain regions. And it is virtually impossible to find a perfect so-called reference task for the nuns to perform against which to compare the religious experience they are trying to capture.

    After all, what human experience is just one detail different from the awe and love felt in the presence of God?

    Making Peace

    For the nuns, serenity does not come from a sense of God in their brains but from an awareness of God with them in the world. It is that peace and calm, that sense of union with all things, that Beauregard wants to capture—and perhaps even replicate.

    “If you know how to electrically or neurochemically change functions in the brain,” he says, “then you [might] in principle be able to help normal people, not mystics, achieve spiritual states using a device that stimulates the brain electromagnetically or using lights and sounds.”

    Inducing truly mystical experiences could have a variety of positive effects. Recent findings suggest, for example, that meditation can improve people’s ability to pay attention. Davidson and his colleagues asked 17 people who had received three months of intensive training in meditation and 23 meditation novices to perform an attention task in which they had to successively pick out two numbers embedded in a series of letters.

    The novices did what most people do, the investigators announced in June: they missed the second number because they were still focusing on the first—a phenomenon called attentional blink. In contrast, all the trained meditators consistently picked out both numbers, indicating that practicing meditation can improve focus.

    Meditation may even delay certain signs of aging in the brain, according to preliminary work by neuroscientist Sara Lazar of Harvard University and her colleagues. A 2005 paper in NeuroReport noted that 20 experienced meditators showed increased thickness in certain brain regions relative to 15 subjects who did not meditate. In particular, the prefrontal cortex and right anterior insula were between four and eight thousandths of an inch thicker in the meditators; the oldest of these subjects boasted the greatest increase in thickness, the reverse of the usual process of aging.

    Newberg is now investigating whether meditation can alleviate stress and sadness in cancer patients or expand the cognitive capacities of people with early memory loss.

    Artificially replicating meditative trances or other spiritual states might be similarly beneficial to the mind, brain and body. Beauregard and others argue, for example, that such mystical mimicry might improve immune system function, stamp out depression or just provide a more positive outlook on life.

    The changes could be lasting and even transformative.

    “We could generate a healthy, optimal brain template,” Paquette says. “If someone has a bad brain, how can they get a good brain? It’s really [a potential way to] rewire our brain.”

    Religious faith also has inherent worldly rewards, of course. It brings contentment, and charitable works motivated by such faith bring others happiness.

    To be sure, people may differ in their proclivity to spiritual awakening. After all, not everyone finds God with the God helmet. Thus, scientists may need to retrofit the technique to the patient. And it is possible that some people’s brains will simply resist succumbing to the divine.

    Moreover, no matter what neural correlates scientists may find, the results cannot prove or disprove the existence of God. Although atheists might argue that finding spirituality in the brain implies that religion is nothing more than divine delusion, the nuns were thrilled by their brain scans for precisely the opposite reason: they seemed to provide confirmation of God’s interactions with them.

    After all, finding a cerebral source for spiritual experiences could serve equally well to identify the medium through which God reaches out to humanity. Thus, the nuns’ forays into the tubular brain scanner did not undermine their faith.

    On the contrary, the science gave them an even greater reason to believe.

    E:\Documents\Documents\ESQ\Searching For God  in The Brain – Researchers Are Unearthing The Roots of Religious Feeling in the Neural Commotion that Accompanies the Spiritual Epiphanies of Nuns, Buddhists and Other People of Faith.mht
    ————————————————————————————-

    BUAT PARA ALUMNI, PENGKAJI DARI JABATAN MUFTI, JAKIM, AGAMAWAN, ILMUAN: APAKAH KITA MASIH PERLU BERTOLAK ANSUR LAGI DENGAN ORANG YANG BEGINI? TIADA BERETIKA WALAUPUN DIA KATA DIA AJAR ETIKA??

    CUKUPLAH UMAT ISLAM DIPERBODOHKAN SETELAH BEBEAPA KURUN OLIH KAUM PENJAJAH; KINI PERBODOHAN DILAKUKAN SESAMA SENDIRI DEMI MENGAGUNGKAN TEORI BARAT.

    SILA KAJI SETERUSNYA SUBJEK GOD-SPOT INI UTK MEMUASKAN HATI ANDA!!

    NUR IMAN.

     
  9. Fuzi

    09/09/2010 at 12:24 pm

    Kita menyeru agar semua Jabatan Agama Islam Negeri (JAIN) dan Jabatan Mufti Negeri-negri (JMN) menyelidiki isu ini dengan mendalam. Sememangnya perlu barangkali diakui bahawa warga JAIN dan JMN tidak cukup ‘ilmu alat’ untuk menaggapi isu secara bersendirian kerana ia isu pemikiran dan falsafah. Namun, seandainya setiap JAIN dan JMN mendapatkan bantuan daripada orang-orang yang berkeahlian dalam bidang tersebut, kemungkinan besar ia boleh meleraikan, menjelaskan dan menerangkan hal-hal yang kabur, samar dan kontroversi dalam ESQ ini yang mempunyai kecenderungan ke arah pemahaman yang salah dalam masyarakat Islam.
    JAIN dan JMN perlu bertindak segera kerana isu seperti ini jika tidak ditangani dengan cepat akan mempau menjadi ‘duri dalam daging’ dalam masyarakat Islam di Malaysia. Apakah JAIN dan JMN mampu untuk melihat sahaja isu ini ‘ditangani’ oleh ‘orang biasa yang tiada kuasa’ dan mampu pula untuk ‘menanggung tanggungjawab’ di hadapan Allah RabbulJalil di akhirat nanti.
    Kita menyeru supaya isu ESQ ini dilihat serius oleh JAIN dan JMN sebagai isu yang mampu memberikan kemudaratan kepada umat Islam di Malaysia. Janganlah hanya mengambil sikap ‘tunggu dan lihat’ atau hanya kerana mahu ‘menjaga hubungan dua hala’ dengan negara jiran maka kita ‘memperjudikan’ akidah umat Islam di Malaysia. JAIN dan JMN mungkin tidak bertangungjawab kepada akidah umat Islam di Indonesia, tetapi tidak boleh sama sekali melepaskan diri daripada pertanggungjawaban terhadap akidah umat islam di Malaysia. Oleh itu, bagi para pengkritik ESQ dan alumni ESQ, marilah kita sama-sama memanjat doa kepada Allah s.w.t. supaya ia menganugerahkan kita jalan hidayah yang benar kerana itulah satu-satunya cara untuk melepaskan diri kita daripada api neraka Allah s.w.t.
    Kepada Panel Syariah ESQ, kita memohon supaya Panel ini melihat kritikan demi kritikan yang diberikan terhadap ESQ ini sebagai satu perspesi yang perlu dilihat dengan teliti. Sebagai Panel yang mempunyai integriti ilmu dan peribadi yang dihormati, kita berkeyakinan bahawa penelitian yang mendalam akan menghasilkan kefahaman yang benar, bukan hanya kefahaman yang hanya ‘diberikan’, ‘dimasukkan’, ‘disumbatkan’ atau ‘dijawab secara verbal’ oleh pengasasnya. Kita boleh katakan ‘tidak’ pada suatu perkara kerana ia adalah ‘keperluan’ ketika itu, tetapi sebenarnya jawaoannya ialah ‘ya’.
    SALAM AIDIL FITRI.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: